PP Nuruttaqwa Jabal Noor adalah pesantren yang terletak di kota kecil (Trenggalek) yang memiliki visi yang besar. Visi tersebut tidak ujug-ujug muncul. Tidak pula tercetus mengikuti tren yang berkembang. Visi tersebut sudah sudah jadi napas pergerakan bahkan sejak peletakan batu pertama pendirian pesantren. Jabal Noor’s Santripeneur Movement. Sebuah cita, sebuah visi, menuju pesantren mandiri ekonomi untuk peradaban yang madani. Itu adalah mimpi setiap kepala yang berada dalam keluarga besar Jabal Noor. Kami semua adalah anak turun langsung dari nenek moyang yang tangguh. Maka, kami tidak mau itu semua hanya berhenti sebagai mimpi. Kami mau cita-cita dan visi kami terwujud. Bagaimanapun caranya. Seberat apapun jalannya.
Pelan-pelan, usaha mulai kami rintis. Jalan mulai kami jajaki. Awalnya, usaha travel haji dan umroh jadi pilihan. Berjalan sangat lancar. Laba dari bisnis tersebut mampu menggerakkan roda ekonomi pesantren. Semua santri yang menimba ilmu di Jabal Noor dikenakan biaya sangat rendah, bahkan gratis bagi santri yatim piatu dan dari keluarga prasejahtera. Ujungnya, beberapa santri bisa kami bantu sampai pendidikan tinggi, gratis. Dari sana, kami merasa perjuangan mulai menemui titik terang
Namun, Allah selalu punya cara agar hamba-Nya tidak cepat merasa puas. 2020 awal, Covid-19 masuk Indonesia. Pertengahan tahun, meledak. Akhir tahun, ditetapkan sebagai pandemi.
Covid-19 serupa buldoser. Menghantam segala yang ada di depannya. Tidak terkecuali bisnis travel haji dan umroh kami. Kami yang selama ini dininabobokkan dengan kelancaran implementasi visi bisnis, kaget bukan buatan. Arab Saudi menyetop haji dan umroh. Kami limbung.
Dalam keadaan serba kalut, kami ingat untuk apa pesantren ini didirikan. Bahwa ini semua belum selesai. Seketika, api ghirah dalam dada kami berkobar. Kami memutar otak bagaimana berkelit dalam situasi sulit ini. Kami tıdak mau sekadar bertahan dari pandemi. Kami mau menang.
Pergerakan dimulai. Kami merinci program bisnis apa saja yang tahan segala situasi, Selain itu, kami mulai melibatkan santri secara penuh dalam pengelolaan bisnis. Dengan holding company berupa tim beranggotakan pengasuh dan santri Jabal Noor, gurita bisnis kami mulai. Dari konveksi, digital printing, laundry, pawon santri, sampai yang terbaru adalah abaya dengan brand
‘Malecha’. Saat ini sudah ada sekitar 50 santri yang terlibat langsung dalam pengelolaan bisnis ini.
Mereka bisa membiayai kuliah dari hasil jerih payah sendiri. Bahkan jika ada sisa, bisa mengirim uang untuk orang tua.
Kami sadar, jalan masih sangat panjang. Implementasi bisnis kami jauh dari kata sempurna.
Kami butuh bantuan banyak pihak. Ibarat kendaraan, bahan bakar kami masih penuh. Kami siap menempuh perjalanan lebih jauh, lebih terjal,. Kami menanamkan mental pejuang pada diri santri yang terlibat. Seorang pejuang yang bahkan sudah memenangkan banyak hal, tetapi masih lapar pengalaman. Masih lapar ilmu dan pencapaian. Lalu apa titik akhir dalam visi ini? Kami membayangkan suatu saat mereka bisa menginisiasi pendirian lembaga pendidikan berbasis Islam.
Kami membayangkan suatu saat mereka berpencar tidak hanya ke Trenggalek atau Jawa Timur saja, tapi ke seluruh Indonesia. Mendirikan ‘Jabal Noor-Jabal Noor’ baru. Memelihara napas Jabal Noor dalam setiap langkah hidupnya. Memelihara semangat yang selalu kami tanamkan p mereka. Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri.
